Rabu, 23 November 2011

●●6 Perkara yang ALLAH sembunyikan…●●


Allah SWT selesai menciptakan Jibril as dengan bentuk yang cantik, dan Allah menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan 124, 000 sayap). Setelah itu Jibrail as memandang dirinya sendiri dan berkata:

"Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?.
Lalu Allah swt berfirman yang bermaksud.. "Tidak"

Kemudian Jibril as berdiri serta solat dua rakaat kerana syukur kepada Allah swt. dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20,000 tahun.Setelah selesai Jibrail as solat, maka Allah SWT berfirman yang bermaksud:

"Wahai Jibril, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh, dan tidak ada seorang pun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad. 'Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan solat dua rakaat yang hanya sebentar saja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, fikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaannKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu aku lebih sukai dari solatmu itu. Kerana mereka mengerjakan solat atas perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan solat bukan atas perintahKu."

Kemudian Jibril as berkata: "Ya Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadat mereka?"

Lalu Allah berfirman yang bermaksud. "Ya Jibril, akan Aku berikan syurga Ma'waa sebagai tempat tinggal..."Kemudian Jibrail as meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma'waa.Setelah Jibril as mendapat izin dari Allah SWT maka pergilah Jibril as dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat jibril as selama 300 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam sujud:

"Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya? "

Kemudian Allah swt berfirman yang bermaksud. "Wahai Jibril, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan.... ."

Marilah sama2 kita fikirkan dan berusaha lakukan... Sesungguhnya Allah S.W.T telah menyembunyikan enam perkara yaitu :

* Allah S.W.T telah menyembunyikan rIdhaNya dalam taat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan murkaNya di dalam maksiat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan nama-Nya yang Maha Agung di dalam Al-Quran.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan solat yang paling utama di dalam solat 5 waktu.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan (tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam semua hari.

Semoga kita mendapat berkat daripada ilmu ini. Wallahualam

Sabtu, 20 Agustus 2011

Wanita Pertama Yang Masuk Surga



Dan siapakah nama wanita itu? Dia adalah Muti’ah.
Kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.

“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.

Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.

“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.

“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”

“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
Subhanallah.

Jumat, 27 Mei 2011

arti hidup


Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, nikmatilah.
 
Hidup adalah tantangan, hadapilah. 
  
Hidup adalah anugerah, terimalah. 

Hidup adalah pertandingan, menangkanlah.
 
Hidup adalah tugas, selesaikanlah.
 
Hidup adalah cita-cita, capailah.
 
Hidup adalah misteri, singkapkanlah.
 
Hidup adalah kesempatan, ambillah.
 
Hidup adalah lagu, nyanyikanlah.
 
Hidup adalah janji, penuhilah.
 
Hidup adalah keindahan, bersyukurlah.
 
Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah.

Uang, kebahagiaan, kesuksesan, cinta, dan seks, hanyalah bagian-bagian KECIL dari hidup.

Hidup adalah mengejar yang terbaik dalam semua prioritas yang terpenting dalam hidup,

Yaitu: Bangkit dari Kegagalan, Membangun Karakter, Memiliki Integritas, Menjadi seperti apa diri kita kita seharusnya, dan Memberikan yang terbaik bagi sesama…

Senin, 09 Mei 2011

1 Jam Tanpa Dosa

Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"

Ayahnya menjawab sambil tersenyum : "tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" tanyanya lagi.

Ayahnya berkata: "tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"

Lagi-lagi ayahnya berkata : "Tak mungkin, nak."



"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi.

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab: "mm..... mungkin bisa, nak."

"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"

Ayahnya tertawa dan berkata : "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."

Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata : "Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"

Rabu, 13 April 2011

< Sketsa Kehidupan: Impian Semusim bag. I&II >>


Kupandangi mawar-mawar putih di sudut beranda. Tertata apik dan
penuh pesona. Tanaman yang kau rawat dengan kesungguhan dan cinta.
Kilauan embun yang terkena sinar mentari membuat mawar-mawar putih itu
makin indah dan anggun seperti dirimu, bidadariku.

  “Kemarilah, Kak. Lihatlah. Cantik sekali, bukan?! Katamu waktu itu,
membanggakan mawar-mawarmu. Aku tersenyum. Kudekati dan kupeluk engkau
dari belakang.

  “Engkau jauh lebih cantik daripada beribu mawar yang berkilauan,
sayaaaang.…” lembut kuberbisik di telinganya.

  Secepat angin engkau membalikkan badan. Kedua tanganmu memegang
pipiku, perlahan kau pejamkan matamu. Kupandangi kau lekat-lekat.
Tiba-tiba kau belalakkan mata indahmu dengan jenaka.

  “Terima kasih untuk rayuan pulau Seribunya, Kak.”

  Aku benar-benar gemas dibuatnya. Kucubit hidungnya. Bukannya marah,
engkau justru semakin menggodaku. Matamu mengerjap-ngerjap manja.
Seperti kerlip kejora yang membiaskan sinarnya hingga ke lubuk hatiku.

  Andai saja kau masih di sisiku saat ini, adek. Sedang apakah engkau
di sana? Apakah engkau kini sedang menungguku dalam taman bunga di
antara berjuta mawar yang semerbak harum mempesona? Ataukah kini
engkau sedang bermain, bercengkerama dengan buah hati kita dan para
bidadari surga?

  Memilikimu adalah anugerah terindah bagiku. Seorang wanita cantik
beralis tebal dan bermata sebening telaga. Mata yang mampu menyihirku
dengan sorot teduhnya. Perangaimu pun sangat menawan. Lemah lembut dan
halus dalam bertutur kata. Sungguh sangat sempurna. Kecantikan raga
dan kecemerlangan otak yang membalut indahnya jiwa. Engkaulah
bidadariku, adek. Bidadari yang Allah kirimkan untukku. Impian yang
selalu ada di benakku, yang termohon dalam setiap doaku dulu. Impian
yang ternyata hanya semusim kulalui bersamamu.

  Seperti rangkaian slide, otakku memutar kembali peristiwa-peristiwa
bersamamu.

  “Semoga aku bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, Kakak. Juga
mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita kelak. Mohon
bimbingannya, Kak.”

  Kucium keningmu dan kupeluk engkau erat. “Aamiin. Insya Allah, Dek.
Akan kulakukan yang terbaik untukmu, sebisaku, semampuku.”  kataku
dalam hati.

  Terbayang betapa bingungnya aku ketika engkau sakit. Berhari-hari
engkau mual dan hendak muntah. Aku kira maagmu kambuh  atau asam
lambungmu kembali mengganggu  karena kebiasaan makan pedas yang paling
sulit engkau bendung. Ternyata aku keliru. Betapa bahagianya waktu
kutahu bahwa ada benihku yang bertumbuh di rahimmu. “Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahu Akbar.”  Pekikku saat itu. Aku langsung sujud
syukur begitu mengetahui berita kehamilanmu.

  Sejak saat itu aku menjadi suami yang sangat-sangat protektif.
Berbagai macam buku tentang kehamilan pun mendadak menjadi bacaan
favoritku. Engkau begitu pengertian dengan segala perubahanku. Tak
sedikit pun kau tampakkan ketidaknyamanan karena sikap tegas dan
kerasku.

  Pernah suatu kali kau katakan, “ Kakak, aku sangat bahagia.
Merasakan perhatian dan kasih sayangmu. Menikmati peranku sebagai
istri dan ibu dari calon jundullah kita. Tahukah engkau, Kakak? Aku
sangat senang katika kau mencium perutku dan melantunkan ayat-ayat
suci untuk janin di dalamnya. Tahukah juga, Kakak… waktu aku harus
minum susu padahal aku sangat tak menyukainya? Aku menahan napas,
dalam tiap tegukan, aku pejamkan mata dan bayangkan engkau tersenyum
padaku.”

~~@~~

  Pagi itu kau tampak begitu segar dengan gamis hijaumu. “Kakak,
nanti pulangnya jangan sampai  larut malam ya. Habis Isya, aku harus
kontrol ke dokter kandungan.” pesanmu padaku sambil kau pasangkan dasi
di kerah bajuku.

  “Iya, adek sayaaaang. Insya Allah Kakak usahakan seawal mungkin.
Kalau perlu ,hari ini Kakak cuti aja ya.”

  “Ga usah, Kak. Periksanya kan masih ntar malam. Kerja pun suatu
amanah yang harus Kakak lakukan sebaik mungkin.” Senyummu begitu
manis, membuatku tak hanya ingin bersamamu sepanjang hari ini tapi
juga setiap waktu di sampingmu.

  Langit  belum lagi gelap. Semburat merah saga menghias senja yang
indah. Tak seperti sebelumnya, hari itu aku berhasil pulang lebih
awal. Kulihat engkau di beranda bersama mawar-mawar putihmu. Wajahmu
tampak lain dibanding biasanya. Terlihat bersinar memancarkan
kecantikan yang sempurna. Engkau tampak sangat anggun dalam balutan
gaun putih tulang yang melambai tertiup angin senja.

  “Subhanallah, cantik nian istriku ini.” gumamku dalam hati.

  “Assalamu’alaykum, Adek…”

  “Wa’alaykum salam, Kakak….” engkau tersenyum manis. Penuh takzim
kau cium tanganku.

  Kucium pipinya.  “Cantik sekali, Dek.”

  “Terima Kasih Kakak. Semua ini untukmu.” Bagai seteguk air di
gersangnya gurun. Terasa hilang segala penatku.

  Aku merasa menjadi suami yang paling bahagia. Hidupku berlimpah
cinta dan diperlakukan bak seorang raja.

  “Kakak, maaf kalau kopinya kurang manis.”

  “Tanpa gula pun akan berasa manis jika aku meminumnya sambil
melihatmu, sayang.”

  “Iiiihhhhh, Kakak! Apa-apaan sih.” dengan wajah pura-pura cemberut
kau cubit pinggangku .

  “Kak… Adek minta maaf jika selama ini belum bisa berlaku sebagai
istri yang baik.”

  Lembut kutarik tubuhmu dan kududukkan di pangkuanku. “Engkau tlah
memberiku segalanya, memberi lebih dari yang aku minta. Dan nanti jika
buah hati kita telah lahir, dia akan makin menyemarakkan dan
memperindah hidup kita.”

  Kulihat kepedihan di matanya. Kesedihan yang tak biasa. Tertumpah
air mata meski tanpa kata. Kuseka buliran bening yang menetes di
pipimu.  “Adek, jangan bersedih dooooong. Ada apa sebenarnya? Coba
ceritakan ke Kakak.”

  Engkau mencoba tersenyum. Lagi-lagi tanpa kata. Ada sesuatu yang
terasa begitu dingin menelusup hatiku. Dingin yang menusuk, perih tapi
entah apa, aku sendiri tak tahu.

  “Kakak… Ke luar bentar yuk. Kayaknya dah lama ga jalan-jalan
petang. Sekalian nikmati senja.”

  “Boleh tapi bentar aja ya. Dah mo Maghrib dan lagi, Adek harus jaga
kesehatan. Jangan sampai kecapekan. Usia kandungannya masih empat
bulan. Harus dijaga benar-benar.” Aku berusaha menuruti permintaanya
supaya kesedihan itu lekas berlalu dari wajahnya.

  “Iya, Kakak. Terima kasih banyak ya.” engkau kembali tersenyum.
Kurasakan sesuatu bergejolak di hatiku. Entah mengapa aku merasa
begitu takut kehilanganmu. Kutepis jauh-jauh perasaanku.

  Kudekap engkau erat,“Adek, aku sangat mencintaimu.’ Tak terasa
mataku berkaca-kaca.

  “Aku juga Kak, Insya Allah selamanya meski maut memisahkan kita.”
suaramu bergetar penuh kepedihan.

  Kulepaskan dekapanku,” Sudah Adek, kok jadi bicara seperti itu. Ayo
jalan-jalan, ntar keburu gelap.”

  Senja masih memerah. Langit pun masih tampak sibuk. Burung-burung
kecil beterbangan kembali ke sarangnya, ramaikan suasana senja.
Tanganmu bergelayut erat di lenganku, seakan tak hendak lepas dan
enggan jauh dariku.

  “Kakak, saya ke super market seberang ya. Cuma bentar. Pengen beli
es  krim. Kakak tunggu aja di sini, ok?!”  matamu tlah kembali
berbinar.

  “Engga ah, Kakak mo ikut.”

  “Kakaaaaaaaak… Cuma sebentar, kayak mo ditinggal ke mana aja, sih.”
engkau tersenyum sambil mengerlingkan matamu.

  “Iya deh, tapi hati-hati ya.”

  “Iya Kakak sayaaaaaang.”

  Kuperhatikan engkau menyeberang jalan hingga masuk ke super market
itu. Tak berapa lama berselang, engkau keluar sambil membawa dua buah
es krim di masing-masing tanganmu. Kulihat engkau tersenyum sangat
manis. Jalanmu begitu anggun.

  Tiba-tiba, sebuah mobil melaju dengan sangat kencang. Tanpa ampun,
menabrak tubuh indahmu. Aku segera berlari menghampirimu. Darah
menetes deras dari tubuhmu. Memerah di putih bajumu. Kuangkat engkau.
Kudekap kepalamu dan kuciumi wajah pucatmu. Hatiku serasa dirajam.
Allah....

  “Kakak… aku sangat mencintaimu. Maafkan aku….” engkau berkata
dengan suara yang sangat lemah, hampir tak terdengar. Engkau
tersenyum, begitu damai. Perlahan kau pejamkan matamu.

  Aku tak mampu berkata-kata. Kuperiksa nadimu. Berhenti! Begitu juga
dengan bumi yang aku pijak. Semua seperti berhenti.  Angin menjadi
diam. Langit pun menggelap dan tiba-tiba runtuh di atasku.

  “Innalillahi wa inna illaihi raji’un….” jiwaku serasa turut
melayang, mengunci waktu.

  "Adeeeeeeeeeekkk...!"

~~@~~

  Suara adzan membuyarkan lamunanku. Matahari telah tepat di atas
kepala. Matahari yang sama, yang menyinari hari-hariku ketika
bersamamu.

  Allah, betapa cinta ini telah mengakar dalam hatiku. Menggema
hingga ke lorong-lorong jiwaku. Aku sangat mencintainya, Rabb…. Ku
bersyukur telah Engkau perkenankan aku hidup bersamanya. Inilah jalan
takdir yang harus aku lalui. Kutahu ini adalah ujian bagiku. Ujian
atas sebentuk cinta yang kurasa. Kecintaanku padanya adalah jalan tuk
meraih cinta-Mu. Begitu juga ketika kuharus kehilangannya.
Keikhlasanku tuk melepasnya adalah bentuk terbesar indah cintaku
padanya dan ketaatanku sebagai hamba.

  Bantu hamba ya Rabb… tabahkan hati yang rapuh ini. Penuhi jiwa
hamba dengan ikhlas yang tak terbatas. Dan ijinkanlah cinta ini tetap
bersemayam di kalbu hamba, cinta yang kan terbungkus dengan indah
sebagai hadiah untuknya kelak.

~~@~~


  Kuselesaikan bacaan terakhir surat ar Rahman. Surat yang paling
engkau suka. Telah beberapa kali kuusap buliran air mata yang menetes
di pipiku. Sedari tadi dadaku terasa sesak dan tenggorokanku seperti
tercekat tiap kali aku membaca, "Fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban."
Mengingatkan betapa lalainya diri ini, teramat sedikit syukur yang
terucap padahal begitu banyak nikmat yang telah aku kecap. Terbayang
dirimu juga syahdu suaramu kala engkau melantunkannya.



  Kututup al Qur'anku. Kucium penuh takzim dan kuletakkan di
tempatnya. Biasanya pada jam-jam seperti ini kita masih bercengkerama
dalam tadarus malam. Memperhatikan bacaan dan hafalanmu. Sesekali jika
ada yang keliru, dengan cekatan aku mencubit hidung mungilmu. Kau akan
tersenyum manis, mengerti dengan isyaratku.



  Aku segera beranjak dari mushala. Kulangkahkan kaki keluar dari
ruangan 3 x 4 meter ini. Hembusan angin sejuk menyentuh pipiku. Begitu
lembut seperti sentuhan jemarimu yang membelaiku. Uuuugggghhh! Aku
sangat merindukanmu, Adek....



  Sambil menunggu subuh biasanya kita duduk di bangku ini. Kau
sandarkan kepalamu di pundakku. Kulingkarkan tangan ke tubuhmu seraya
kubelai lembut lenganmu hingga dingin angin tak sedikit pun
mengganggumu. Berdua kita nikmati indah langit yang menjadi atap
terindah bagi halaman belakang rumah kita.



  Masih teringat ketika kau katakan,"Inilah surgaku, Kakak. Tinggal
bersamamu dalam istana kecil kita."  Terpancar binar bahagia dari raut
wajah manismu.



  Kupandangi kerlip gemintang di langit. Terlihat satu bintang yang
paling mempesona. Anganku mengangkasa. Teringat akan sajakmu sebulan
yang lalu.



Someday

Somewhere

Somehow

If you are alone and i'm not there beside you

Don't be disappointed

Don't be angry

Just look at the stars in the sky

U'll see the one bright and smiley

That's me!



Someday

Somewhere

Somehow

If i hurt you and must go away

Don't be disappointed

Don't be angry

Don't throw away all about me and all of our sweet memories

Please remember me....

 [Lovely Rain]



  Mataku memanas, tanganku bergetar. Gemuruh di dada tiba-tiba
menghantam. Semakin lama aku terpejam, sosokmu makin kuat membayang.
"Allah.... Ampuni hamba. Bukan hamba tak rela dengan kepergiannya.
Semua ini begitu tiba-tiba. Engkau tahu hati ini sangat mencintanya.
Bantu hamba ya Rabb...."



  Pandanganku terasa memburam. Gemulai daun-daun palem yang tertiup
angin seperti lambaian selamat tinggal. Sayup-sayup kudengar suara
adzan subuh. Ada gelombang kedamaian yang merambat perlahan mengaliri
nadiku, menggulung ombak galau ketidakberdayaanku....



[by: Lovely Rain]

Minggu, 27 Maret 2011

Arak Menjadi Madu


Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau terserempak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?"
Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. Walhal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang bercakap bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus minum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang ditegah oleh agam itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditegah oleh agama itu.

Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu."
Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.

Allah Taala berfirman,
" Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari 'Nahrul Khabal'.
Ketika ditanya, "Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?"
Jawab Rasulullah, "Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! "

Rabu, 23 Maret 2011

Cinta Istimewa Untuk Orang Yang Luar Biasa


BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya.

Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng.

Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek.

Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.
Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.
Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.


nb: dari cerita ini kita bisa memetik hikmahnya....ga perlu menjadi orang yang kaya raya untuk menjidi pribadi yang dermawan....subhanaallah.... ^_^


Sumber : (Milis Yahoogroups)